SETULUS CINTA ZARA Part 08
"Mama!" Panggil Lana saat aku turun dari lantai atas.
"Iya sayang?" tanyaku pada Lana, ia mengangkat lembar kerjaku yang penuh dengan susu coklat miliknya.
Ya Allah lembar kerjaku rusak padahal besok harus selesai.
Aku hanya tersenyum tidak mau membuat dia takut padaku
"Kena susu cokat Lana Mama" kata Lana sambil menunduk takut.
Aku dekati dia dan kujongkokkan badanku supaya sejajar dengannya
"Tidak apa-apa sayang nanti Mama buat lagi" kataku.
"Tapi lain kali hati-hati ya sayang" kataku dia mengangguk.
"Maafin Lana Mama" katanya.
"Mama maafin sayang, yaudah Lana main lagi ya" kataku.
Dia mengangguk dan kembali bermain.
Kulihat suamiku sedang fokus dengan laptopnya.
Fatan Pov.
Aku pulang cepat hari ini karena pekerjaan di kantorku sudah kelar, aku segera membawa mobilku pulang ke rumah.
Kulangkahkan kakiku ke dalam rumah yang tampak sepi.
Aku mendengar suara tawa anakku, kulangkahkan kakiku menuju halaman belakang.
Kulihat dia sedang sibuk mengamati Lana.
"Assalamualaikum" salamku semenjak aku menikah dengannya aku jadi terbiasa mengucap salam.
"Waalaikumussalam" jawab keduanya Lana langsung berlari memelukku.
Dia mengambil tas dan jas kerjaku kemudian dia masuk rumah tak lama dia kembali dengan membawa air putih untukku.
Sebenarnya selama seminggu aku menikah dengannya dia selalu melayaniku dengan baik dia juga selalu bebuat baik pada Lana.
Lana duduk dipangkuanku sambil berceloteh riang.
Aku tersenyum ketika ia memberiku onde-onde, dia malah menyebutnya pingpong berkutu dasar anakku.
Aku pergi untuk mandi, sebelum aku masuk kamar mandi aku berdiri ditepi jendela melihat interaksi gadis itu dengan anakku, aku tersenyum saat melihat dia begitu akrab dengan anakku. Lana begitu mencintai Zara aku tahu itu dari tatapan mata Lana saat Zara mengajarkannya menulis.
Setelah mandi aku membuka laptopku ngecek pekerjaanku tadi.
Kulihat dia membawa anakku masuk dan meletakkan kerjaannya di meja dan dia naik ke lantai atas.
Aku tahu selama dia menjadi istriku dia tidak lupa kewajibannya untuk bersimpuh pada sang pemberi kehidupan.
aku memperhatikan Lana sedang bermain dengan mainannya di meja.
Dan ketika ia ingin mengajakku bermain tanpa sengaja ia menumpahkan susu coklatnya kelembar desainnya Zara.
"Papa!" panggilnya.
"Nanti bilang Mama ya minta maaf" kataku hanya itu aku juga tidak tahu harus bagaimana.
Saat Zara turun Lana langsung memberitahunya dan tidak kusangka dia tidak marah pada anakku.
Ya Allah terbuat dari apa hatinya padahal aku tahu itu pekerjaan penting untuknya
Dia begitu baik dengan anakku dia selalu melayaniku menyiapkan makan, minum dan pakaianku tapi aku masih belum bisa menerimanya.
Hatiku masih berharap Ibu kandung Lana. Aku masih berharap Delisa kembali padaku.
-----------
Zara pov.
Aku duduk bersama Fatan di sofa dia masih saja fokus pada laptopnya, tapi aku harus ngomong mumpung dia ada di rumah biasanya dia sibuk.
"Bang!" Panggilku.
"Hem" jawabnya dengan gumaman.
"Lana minggu lalu ngomng kalau dia ingin sekolah" kataku membuat dia menoleh padaku.
"Sekolah?" Tanyanya.
Aku mengangguk
"sebenarnya dari kemarin aku ingin ngomong ini, tapi Abang selalu pulang malam dan paginya Abang berangkat pagi sekali" kataku.
"Nanti aku cari sekolah yang baik untuk Lana" putusnya dan kembali fokus pada laptopnya.
"Maaf Abang, Zara ada rekomendasi sekolah Lana ada deket butik Zara jika boleh nanti Zara tanyakan pada teman Zara kebetulan teman Zara yang punya" kataku.
"Terserah kamu" katanya.
"Terima kasih" kataku.
Dia mengangguk saja.
Aku mulai mengambil buku untuk mendesain ulang pekerjaanku mau tidak mau aku harus lembur malam ini.
"Mama!" Panggil Lana.
"Ya sayang?"
"Bobok" katanya.
Aku tersenyum dan beranjak menghampirinya, mengajak dia untuk tidur semenjak aku disini Lana lebih suka ditemani tidur olehku.
-----------
Aku masih mengerjakan desain baju pesanan saat dia masuk kamar,
"Tidak tidur?" Tanyanya.
Aku menoleh padanya.
"Nanti Bang, tinggal dikit besok sudah harus diberikan pada pemesannya" kataku, sedikit senang dia sudah ingin bicara padaku, kulihat dia tidak jadi duduk di ranjang tapi dia berjalan mendekatiku dan duduk disebelahku, dia menarik lembar kerjaku dan meletakkan di meja
"Sudah malam tidur" katanya.
Aku ingin membantah, tapi dia suamiku surgaku ada ditelapak kakinya, akhirnya aku mengangguk dan melangkah ke ranjang diikuti olehnya.
Kuulurkan tanganku dia menyambutnya
"Bang maafkan jika Zara ada salah, Zara tidur dulu, assalamualikum".
"Waalikumussalam" jawabnya dan ikut berbaring denganku.
Sebenarnya aku tidak bisa tidur karena pekerjaanku belum selesai tapi bagaimana lagi dia sudah memintaku untuk tidur.
-----------
Seperti biasa aku bangun untuk sholat malam setelah sholat malam aku membuka lembar kerjaku yang 90% selesai kuteruskan sedikit lagi dan alhamdulillah selesai juga.
Saat aku ingin beranjak dari dudukku dan melihat dia berdiri di depanku membuat aku kaget saat melihat dia berdiri di depanku apa aku terlalu serius sampai dia bangun aku tidak tahu?
"Kenapa tidak tidur?" Tanyanya.
"Zara selesai sholat malam Bang terus meneruskannya sedikit ini sudah selesai kok, Abang haus Zara ambilkan minun ya?" Tanyaku.
Karena melihat dia membawa gelas air yang biasa aku sediakan di kamar, kulirik jam didinding sudah jam tiga.
Aku mengambil gelas ditangannya dan berjalan membuka pintu untuk mengisi air lagi.
Fatan mengikutiku dan duduk di meja makan
"Maaf jika tadi aku membangunkan Abang" kataku minta maaf.
Dia tidak menjawab dan terus menatapku membuat aku jadi malu.
"Kenapa tidak marah tadi?"
Pertanyaannya membuatku bingung.
"Marah?" Tanyaku.
"Saat tahu lembar kerjamu dirusak anakku."
Aku tersenyum lembut padanya.
"Gimana mau marah Bang, Lana juga anakku kan sekarang dia lebih berharga dibanding kertas itu. Jika aku marah padanya apa bisa lembar kerjaku kembali seperti awal, nanti dia malah takut denganku itu lebih membuatku tidak tenang, dia juga sudah minta maaf kan pada Zara." Kataku padanya.
Dia tidak bertanya lagi dan membawa gelasnya masuk ke kamar sedangkan aku sudah bergelut di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka keluarga kecilku, hari ini juga hari kamis seperti biasa aku ingin berpuasa sunnah.
Aku sedikit senang hari ini karena dia sudah mau berbicara padaku meskipun dia lebih banyak diam tapi alhamdulillah obrolan kami yang pertama ini sedikit berharap ini adalah awal yang baik untuk keterusan rumah tangga kami. Aamiin..
-------🌹🌹-------
Bersambung
Comments
Post a Comment