SETULUS CINTA ZARA Part 15

Zara terbangun disepertiga malam seperti biasa ia akan melakukan Sholat sunnah.

saat ingin bangun ia merasa berat diperutnya ia melihat kearah perutnya tangan suaminya melingkar diperutnya ia berusaha untuk menyingkirkannya tapi bukannya

menyingkir malah Fatan makin merapatkan pelukannya.


"Abang!" Panggil Lirih Zara.

"Diamlah Delisa aku masih merindukanmu dan memelukmu" kata Fatan serak.

Zara menarik nafas dan membuangnya.

"Abang! Zara ingin kekamar mandi" kata Zara membuat Fatan membuka matanya dan melihat Zara.

"Zara ingin kekamar mandi abang" kata Zara dengan suara menahan tangis.

Fatan mengalihkan tangannya dari perut Zara.


Zara segera menutupi tubuhnya dengan selimut dan berjalan menuju kamar mandi. Ia segera menyalakan shower dibawah guyuran dingin air malam Zara meremas

dadanya yang terasa sesak saat ini.

"tidak adakah sedikit celah dihatinya untuk aku?"

"Hanya sedikit, sedikit saja" kata Zara dalam tangisannya.


Zara tersadar saat pintu kamar mandi diketuk. Ia segera menyelesaikan mandinya dan berwudlu.

Zara membuka pintu kamar mandi dan melihat Fatan hanya memakai boxernya.

Ia ingin menyentuh Zara tapi Zara mundur selangkah.

"Maaf Abang Zara sudah wudlu" kata Zara dan diangguki oleh Fatan, dan minggir memberi jalan kepada Zara.


####


Fatan bangun karena mendengar alunan ayat suci yang merdu.

Ia duduk dan bersandar dikepala ranjang mengamati wajah tenang Zara yang sedang mengaji.

Fatan sadar ia sudah lama tidak menjalankan kewajibannya terakhir dia menjalani kewajibannya itu lulus dari sekolah, setelah itu dia tidak menjalani kewajibannya

lagi apalagi setelah mengenal Delisa ia lebih banyak membuat dosa daripada membuat pahala.


"Zara membangunkan abang?" Tanya Zara setelah menyelesaikan mengajinya.

Fatan menggeleng, Zara melepas mukenanya dan melipatnya ia mendekati suaminya disalam tangan suaminya.


Ia mengambil hijabnya dan ingin pergi.

"mau kemana?" Tanya Fatan.

"mau buat sarapan untuk abang" kata Zara.


"duduklah disini!" Perintah Fatan, Zara menurutinya.

"Ada apa abang?" Tanya Zara.

"Kenapa kamu dulu meminta Mahar hanya sedikit?" Tanya Fatan dari dulu ia ingin tahu alasannya kenapa Zara hanya meminta mahar Dua juta enam belas ribu

saja.


Zara tersenyum sebelum menjawabnya "Zara ingin mendapat berkah pernikahan bang ada satu hadits mengatakan, 

"Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad).

yang penting bagi Zara bukan banyak Mahar yang akan diberi tapi yang penting adalah berkahnya, Zara ingin pernikahan kita mendapat berkah dan ridho Allah"

jawab Zara.

Fatan memandang Zara.

"Cepat mandi Zara akan buat sarapan untuk kita" kata Zara dan beranjak pergi.


#####


Zara masih termenung didapur, sebenarnya ia sakit dengan sikap Fatan tidak bisakah dia melupakan mantannya saat bersama Zara tak terasa air matanya menetes

dan buru-buru ia menghapusnya.

Zara berusaha tenang dan harus bersikap biasa.


Senyuman tulus diberikan kepada suaminya yang kini telah turun menuju meja makan.

"Assalamualaikum abang!" Salam Zara sambil memberikan kopi hitam untuk Fatan.

"Waalaikum salam" jawabnya.


"Lana kapan pulang bang? Zara kangen" tanya Zara.


"Mungkin dua hari lagi" kata Fatan.


"Zara! nanti makan siang aku jemput ikut aku meeting" 


"Baik bang" jawab Zara.


Fatan menikmati sarapannya sedangkan Zara hanya memakan sarapannya sedikit.


"Ada apa?" Tanya Fatan.

"Hmm?" Gumam Zara sambil memandang Fatan.

"Ada apa? Kenapa kamu ngelamun?" Tanya Fatan. Zara menggeleng.

"Aku merindukan Lana" jawab Zara.

"Dua hari lagi dia akan pulang, yaudah aku berangkat" kata Fatan.

"Hati-hati" pesan Zara, Fatan mengangguk.


"Assalamualaikum" 


"Waalaikumsalam" jawab Zara.

Seperti biasa ia mencium tangan Fatan.


Fatan mencium kening Zara singkat membuat Zara tersenyum.


"Alhamdulillah" bathin Zara satu kemajuan lagi di hubungannya.


####


Ponsel Zara berdering ia melihat siapa yang menghubunginya.


"Mama" gumam Zara.


"Assalamualaikum mama!"


"...."


"Lana sayang mama kangen Lana" kata Zara ternyata anaknya yang menelfonnya.


"..."


"Benarkah sayang? Mama lebih-lebih rindu kamu sayang"


"...."


"Papa? Ouwh papa ah itu papa baru datang" kata Zara karena melihat Fatan baru masuk ruang kerjanya.


"...."


"yaudah iya mama juga sangat sayang Lana waalaikumsalam" kata Zara mengakhiri telfonnya.


"Assalamualaikum abang!" Salam Zara dan mencium tangan suaminya.


"waalaikumsalam" jawab Fatan sambil mencium kening Zara singkat.

"Siapa?" Tanya Fatan.

"Lana bang besok dia pulang" kata Zara, Fatan mengangguk.


"Ayo!" Ajak Fatan, Zara mengangguk.


Zara keluar dari ruangannya mengikuti Fatan sebelumnya ia sudah berpesan kepada orang kepercayaannya kalau dia tidak kembali setelah makan siang.


"maaf sudah mengganggu pekerjaanmu". Kata Fatan sambil menyetir mobilnya.

"Tidak bang, tidak ada yang penting dari abang" kata Zara sambil memandang wajah Fatan yang sedang serius menyetir.


"Kenapa?' Tanya Fatan pada Zara yang dari tadi menatapnya.

Zara menggeleng saja.


Fatan membelokkan mobilnya kepelataran restoran.


Zara turun dan mengapit tangan Fatan saat masuk kerestoran.

"Selamat siang pak Restu" sapa Fatan.


"Selamat siang pak Fatan, dan istrinya benar?" Tanya pak Restu.


"Ya! Zara dia istriku" kata Fatan.


"Wanita sempurna" kata Restu.

Zara hanya menunduk. Risih sebenarnya dia mendengar kalimat itu dari pria lain kecuali suaminya.


"Istri anda dimana pak?" Tanya Fatan.

"Sedang di toilet tadi" kata Pak Restu.


"Selamat siang pak Fatan!" Wanita cantik yang baru datang.

Fatan hanya mengangguk sedang kan Zara tersenyum.


Fatan dan pak Restu membahas masalah pekerjaan sedang kan Zara dan istri Pak Restu ngobrol.


Zara hanya menyahuti dengan senyuman dan sesekali menjawab karena istri pak Restu ngomongin tentang suaminya, dan Zara tidak suka itu tidak seharusnya

Seorang istri mengumbar aib suaminya.

"Maaf bu saya ingin ke toilet dulu" potong Zara karena ia tidak ingin dosa mendengar cerita Bu Restu.

"Abang Zara ke toilet dulu!" Pamit Zara Fatan mengangguk.


####


Bersambung.

Comments