SETULUS CINTA ZARA Part 14

Fatan turun dari lantai atas melihat Zara sedang menelfon seseorang dengan wajah serius membuat Fatan penasaran dan mendekatinya. 

"Ada masalah?" Tanya Fatan.


"Sedikit tapi sudah diselesaikan" jawab Zara.

"Abang makan dulu" ajak Zara.


Setelah makan Fatan masuk ruang kerjanya hanya ruang kerjanya yang membuat dia bisa berfikir.


Sedangkan Zara berada diruang tv.

sebegitu cintakah suaminya mantan kekasihnya sampai dia tidak mau menerima wanita lain dihatinya.


"Ya Allah sesulit inikah mendapat secuil kasih dari suamiku?" Bathin Zara sambil menatap foto besar dihadapannya.


"Sanggupkah aku bertahan menjalani ini ? beri zara Jalan Ya Allah" sambungnya.


Setitik air mata jatuh dipipinya ia segera menghapusnya.

Sebenarnya ia rapuh didalam, tidak ada pegangan saat seperti ini.

Adzan isya' berkumandang menyuruh semua umat muslim segera menjalankan kewajibannya.


Zara segera naik keatas untuk menjalankan sholat isya'


Sebenarnya ia ingin suaminya menjadi imam saat sholat tapi sepertinya itu akan sulit.


Zara menengadakan tanganya keatas memintah kepada sang pembuat hidup.


"Ya Allah! Tidak banyak permintaanku hanya satu bukakan sedikit pintu hati suami Zara." pinta Zara, tanpa sepengetahuan Zara Fatan berdiri dibalik pintu, ia mendengar semua apa yang dikatakan Zara.

Saat ia masuk Zara sudah duduk dimeja Rias.

Ia duduk ditepi ranjang dan memperhatikan Zara.

"Zara!" Panggil Fatan.

"Iya bang?" Jawab Zara lembut sambil menghadap suaminya.


"Aku ingin meminta hakku" kata Fatan tiba-tiba, Zara membeku Fatan pun begitu sebenarnya ia ingin meminta maaf atas sikapmya selama ini tapi apa yang dikatakan tidak sesuai apa yang ada dihatinya.


Zara tersenyum "Zara siap dan ikhlas bang" kata Zara.


Fatan berdiri dan melangkah mendekati Zara, dikecupnya kening Zara untuk ketiga kalinya bagi Fatan, ya tiga kali pertama saat usai akad nikah, kedua kemarin ketiga sekarang ini Zara hanya memejamkan matanya meresapi kecupan seorang suami yang kedua kalinya bagi Zara.


Dalam hati Zara hanya berucap syukur, semoga ini menjadi awal yang akan merubah sikap dinginnya pada Zara.

Dibopongnya tubuh kecil Zara keatas ranjang ditidurkannya tubuh kecil Zara, ia juga ikut berbaring.


"Apa yang membuatmu cinta kepadaku?" Tanya Fatan, ia tahu Zara gugup sekarang makanya dia tidak langsung menjalankan haknya ia ingin mengajak ngobrol Zara biar rilex.

Fatan tiduran miring menghadap Zara dengan satu tangannya untuk menyanggah kepalanya.


"Zara tidak tahu" jawab Zara.

"Itu bukan jawaban, kenapa kamu bisa mencintaiku? kasih satu alasan" pinta Fatan.


"Zara tidak mempunyai alasan kenapa Zara mencintai abang"


Fatan mengerutkan keningnya.


"Jika Zara mencintai abang karena harta abang yang banyak tapi suatu saat jika Allah mengambil semua harta abang dan abang tidak mempunyai harta lagi Zara tidak ada alasan lagi untuk tetap mencintai abang, jika Zara mencintai abang karena abang tampan jika abang tua Zara tidak akan lagi mencintai abang karena wajah abang akan keriput dan tidak tampan lagi maka dari itu Zara tidak punya alasan untuk mencintai abang, Zara mencintai abang karena Zara mencintai Abang tidak ada alasan kenapa Zara bisa mencintai abang" jawab Zara membuat Fatan diam memandang Zara.

Tangannya terulur menyentuh pipi Zara, "tidak pantas aku memiliki gadis sepertimu kamu terlalu baik," ucapan Fatan.

Zara menggeleng, "bukan pantas tidak pantas bang semua pantas bersanding dengan siapa, aku malah lebih beruntung bisa menjadi salah satu anggota keluarga dirumah ini hidup dengan pria yang mampu membesarkan putri kecilnya sendiri" kata Zara.

"Aku tidak merawatnya sendiri mama membantuku".

Zara mengangguk dan memandang wajah Fatan.

"Aku masih merasa tidak pantas untukmu dengan masa laluku bahkan aku masih belum bisa mencintaimu" kata Fatan.

Zara menggeleng pelan.

"tidak apa abang jangan terbebani tentang hal itu,

Zara menerima abang apa adanya, menerima masa lalu abang, masa lalu adalah guru terbaik bukan begitu abang?" Tanya Zara.

Fatan mengangguk dan memandang Zara.


"Jika Zara mencintai abang karena harta abang yang banyak tapi suatu saat jika Allah mengambil semua harta abang dan abang tidak mempunyai harta lagi Zara tidak ada alasan lagi untuk tetap mencintai abang, jika Zara mencintai abang karena abang tampan jika abang tua Zara tidak akan lagi mencintai abang karena wajah abang akan keriput dan tidak tampan lagi maka dari itu Zara tidak punya alasan untuk mencintai abang, Zara mencintai abang karena Zara mencintai Abang tidak ada alasan kenapa Zara bisa mencintai abang" jawab Zara membuat Fatan diam memandang Zara.

Tangannya terulur menyentuh pipi Zara, "tidak pantas aku memiliki gadis sepertimu kamu terlalu baik," ucapan Fatan.

Zara menggeleng, "bukan pantas tidak pantas bang semua pantas bersanding dengan siapa, aku malah lebih beruntung bisa menjadi salah satu anggota keluarga dirumah ini hidup dengan pria yang mampu membesarkan putri kecilnya sendiri" kata Zara.

"Aku tidak merawatnya sendiri mama membantuku".

Zara mengangguk dan memandang wajah Fatan.

"Aku masih merasa tidak pantas untukmu dengan masa laluku bahkan aku masih belum bisa mencintaimu" kata Fatan.

Zara menggeleng pelan.

"tidak apa abang jangan terbebani tentang hal itu,

Zara menerima abang apa adanya, menerima masa lalu abang, masa lalu adalah guru terbaik bukan begitu abang?" Tanya Zara.

Fatan mengangguk dan memandang Zara.


"Aku bahkan tidak bisa melihat wanita lain dihatiku masih terpatri namanya" kata Fatan membuat Zara tersenyum dalam kepahitan.


Zara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan menghilangkan sesak didadanya.


"Ajari aku untuk menerimamu!" Pinta Fatan.

Zara mengangguk "aku tidak bisa mengajari abang untuk menerimaku karena menerima atau menolaknya adalah pilihan abang, hanya satu bang ikhlas" jawab Zara pelan


 "Zara!" Panggil Fatan.


"Ya?"


"Ijinkan aku meminta hakku" katanya.

"Tak perlu meminta ijin bang Zara siap dan ikhlas".


Fatan mendekati Zara dikecupnya kening Zara.

saat Fatan ingin mencumbunya Zara menahannya.

Membuat Fatan memandangnya.

"Baca do'a dulu! Biar Allah meridhoi apa yang akan terjadi nanti" pinta Zara.

Fatan mengangguk dan membacakan do'a dan meniupkan ke atas ubun-ubun Zara.

Zara sedikit terpaku bahwa Fatan mengerti sunnah saat sebelum melakukan itu.


"Bismillaahirrahmaanirrahiim." ucap Zara sambil memejamkan matanya saat tubuh mereka menyatu.


"Alhamdulillah" ucap Zara saat dia mendapatkan kenikmatan dunia pertama bersama pria yang halal.


 "Delisa!!" Teriak Fatan saat mencapai puncaknya.

Membuat Zara menitihkan air mata, bahkan saat seperti ini yang ada dipikiran dan hati Fatan hanya mantan kekasihnya.


"Sabarkanlah aku Ya Allah, sesungguhnya hanya Engkau yang bisa membolak-balikan hati."


Bersambung.

Comments