SETULUS CINTA ZARA Part 13

Abu Daud, Nabi Muhammad SAW. bersabda : Datangilah (gauli) ladangmu ( Istrimu ) menurut yang kau ingini, berilah ia makan jika engkau makan, berilah ia pakaian, jangan bermuka masam kepadanya dan jangan kau pukul dia.


###


Sepulang dari pesta Zara segera melakukan sholat isya' sedangkan Fatan masuk keruang kerjanya.

"Apa aku beruntung memilikinya?" Tanya Fatan pada dirinya sendiri.

Dia masih memikirkan setiap apa yang dikatakan temannya tadi kalau dia beruntung memiliki Zara.


Ketukan pintu membuat Fatan berdiri dan membuka pintunya.

Berdiri Zara didepan pintu dengan masih mengenakan mukenanya.

Fatan mengangkat alisnya.

"Tadi ada yang menelfon bang, Zara fikir penting jadi Zara bawa kesini" kata Zara sambil mengulurkan ponsel Fatan.

Fatan mengambilnya.

"Makasih" kata Fatan dan pergi masuk keruangannya.


Zara kembali ke kamar untuk melepas mukenanya.

Saat ingin naik keatas ranjang Zara mendengar suara pintu terbuka, dilihat suaminya baru masuk kamar.


"Mau tidur?" Tanya Fatan.

Zara mendengar pertanyaan suaminya hanya diam masih tidak percaya.

"Zara!" Panggil Fatan.

"Ah! Tidak bang, Zara belum mau tidur mau ngecek pemasukan kafe Zara" jawab Zara.

"Abang mau minum?" Tanya Zara, Fatan menggeleng.

Zara mengangguk dan mengambil tab nya dan mulai membuka emailnya sedangkan Fatan bingung untuk ngomong pada Zara kalau ia ingin meminta haknya sebagai suami tapi Fatan sadar diri apa ia pantas disebut suami?


Saat temannya menghina Zara dia hanya diam, 

dan dia juga selalu bersikap dingin padanya apa pantas dia disebut suami?


 Saat temannya menghina Zara dia hanya diam, 

dan dia juga selalu bersikap dingin padanya apa pantas dia disebut suami?


Tapi keinginan Fatan sudah tidak bisa ditunda lagi, dulu sebelum ia beristri saat libidonya ingin di puaskan ia akan mencari wanita malam tapi sekarang ia ada Zara istrinya ia tidak ingin membuat dosa lagi dengan menyakiti istrinya cukup dulu dosa besar yang ia lakukan.


"Abang ingin sesuatu?" Tanya Zara.

Fatan menggeleng, Zara masih menatap wajah gelisah suaminya


Zara meletakkan tabnya dimeja samping ranjangnya.


Bersilah menghadap Fatan yang sekarang sudah rebahan mencoba memejamkan matanya.


"Abang! Jika abang tidak bisa menerima Zara sebagai istri abang, terima Zara sebagai teman abang, teman yang ada saat abang membutuhkan," kata Zara membuat Fatan membuka matanya dan melirik Zara.

"Tidurlah!" Perintahnya.

Zara hanya bisa mendesah kecil Fatan masih belum bisa menerima dirinya.

Akhirnya Zara membaringkan badannya terlentang ia tidak ingin mendapat dosa sia-sia karena tidur membelakangi suaminya.


 Fatan membuka matanya dan melirik Zara yang sudah memejamkan matanya.

Ia memandang wajah ayu Zara, wajah yang bersinar memberikan keteduhan untuk siapa saja yang memandang.

sekarang ia juga terbiasa dengan kebiasaan Zara yang bangun malam untuk sholat walaupun usia pernikahannya masih satu bulan.


Ia tidak bisa tidur sama sekali.

Ia sesekali melirik Zara yang lelap dalam tidurnya.

Perlahan ia mengangkat tangannya ia arahkan pada wajah Zara dia usap perlahan pipi putih mulus Zara.


"Dia cantik, lembut dan penyayang" gumamnya.

Disentuhnya bibir merah alami tanpa lipstick.


"Ajari aku untuk bisa menerimamu" gumamnya.


 Perlahan ia mendekatkan dirinya kearah Zara dan mengecup kening Zara singkat kemudian ia membaringkan badannya lagi karena sebentar lagi Zara akan bangun.

Dan benar tak lama Zara bangun dan turun dari Ranjang dan melihat kearah suaminya.

Menarik selimut keatas untuk menyelimuti suaminya, kemudian dia melangkah menuju kekamar mandi.


####


Zara sudah menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya.


"Assalamualaikum" sapa Fatan yang sudah Rapi dengan setelan kerjanya.

"Waalaikumsalam" jawab Zara.


"Hari ini Zara masak mie goreng" kata Zara sambil tersenyum.

Fatan membalas tersenyum dan itu pertama kalinya membuat Zara senang.


Ia juga menyiapkan kopi hitam untu Fatan.


"Nanti biar Zara yang jemput Lana" kata Zara.


"Tidak perlu, Lana dibawa mama ke singapore untuk seminggu kedepan " jawab Fatan.


Zara mengangguk dan tidak bertanya lagi ia mulai memakan sarapannya.


Fatan bersiap untuk berangkat seperti biasa Zara mencium tangan Fatan dan seperti biasa tanpa ada kecupan sayang.


"Assalamualikum" salam Fatan.

"waalaikumsalam, hati-hati" kata Zara.


Fatan mengangguk saja.


#####


Fatan dikantor merenung ia berjanji akan mencoba menerima Zara sebagai istrinya.

Meskipun hatinya masih untuk Delisa.

"Kemana kamu pergi sebenarnya Delisa?" Tanya Fatan pada dirinya sendiri.

"Aku sangat merindukanmu" katannya lagi.


"Hmmm begini ini yang tidak akan pernah bahagia" kata Dewa yang baru masuk seperti biasa tanpa mengetuk pintu dulu.


"Bisa mengetul pintu dulu tidak" geram Fatan, Dewa hanya nyengir saja.


"istri lo yang sudah sabar menghadapi lo yang tidak pernah bisa melihat kebaikannya" kata Dewa sambil duduk dikursi depan meja kerja Fatan.


"lo pernah ngerasain dikecewakan seharusnya lo bisa menghargai perasaan seorang apalagi itu istri lo" nasehat Dewa.


"Gue harus bagaimana Wa?" Tanya Fatan.

"terima dia bro, dia gadis yang sangat istimewa, aku tahu semua itu dari Helen karena Helen berteman baik dengan dia semenjak ia kecil"


"Akan aku coba," katanya.


 "Jangan pernah kecewakan dia, dia gadis yang baik terlalu baik, jujur saat aku mendengar pertama kali dari Helen dia akan menikah denganmu aku sempat memperingatkan dia untuk menolak karena lo sudah mempunyai anak bahkan diluar nikah" kata Dewa tanpa memperhatikan perubahan wajah Fatan.


"Dan apa yang dia jawab padaku,

itu masa lalunya biarkan masalalunya menjadi pelajaran baginya, dan soal anak itu, dia anak yang tidak bersalah dia suci seperti kertas putih jangan bilang dia anak haram" jelas Dewa membuat Fatan terdiam.


"Dia ngomong gitu belum bertemu dengan anakmu dan sekarang lihat anakmu sangat menyayanginya, pikirkan itu! " kata Dewa dan pergi.


Fatan melihat kepergian Dewa hanya bisa melongo Dewa sengaja datang keruangannya hanya untuk berceramah.


 "Sialan lo Wa!" Umpat Fatan.


Benar kata Dewa dia harus bisa menerima Zara, Zara begitu baik dengannya bahkan dia rela merawat anaknya.


####


Sore hari Fatan mengendarai mobilnya menuju rumahnya.

Sampai dirumah Fatan langsung masuk kedalam kamarnya saat pintu terbuka Fatan membeku dia melihat Zara sedang berganti baju ia tak berniat untuk membalikkan badan ia terus menatap punggung mulus Zara sampai pekikan Zara mengagetkannya.


"Astagfirullah!" Pekik Zara saat melihat Fatan berdiri kaku didepan pintu.

Dengan cepat Zara merubah mimik wajah terkejutnya dengan senyuman.

"assalamualaikum" salam Zara sambil mengulurkan tangannya untuk menyalaminya.


 "Abang mandi biae Zara buatin minum dulu." Kata Zara dan berlalu keluar.


Sedangkan Fatan duduk ditepi Ranjang untuk menormalkan detak jantungnya.


####


Bersambung.

Comments