SETULUS CINTA ZARA Part 06
Zara yang lagi melayani pelanggan mendengar lonceng pintu masuk berbunyi menandakan ada yang datang.
Zara mendongak melihat siapa yang datang.
Ternyata Suaminya yang datang, Zara tersenyum ke arah Fatan.
"Sachi!" Panggil Zara.
"Iya Mbak?"
"Tolong layani pelanggan ini, aku mau menemui suami ku" kata Zara.
"Baik Mbak" jawab Sachi.
"Maaf ya Mbak saya mau menemui suami saya" kata Zara pada pelanggannya.
Pelanggannya yang wanita paruh baya itu tersenyum dan mengangguk.
Zara melangkah menuju suaminya.
"Assalamualaikum Abang" salam zara dan meraih tangannya untuk disalimnya.
"Ayo ke ruang Zara, Zara mau sholat dhuhur sebentar" ajak Zara dan melangkah menuju ke ruangannya.
Fatan mengamati ruangan kecil itu, di ruang itu ada meja kerja dan sofa sudut menghadap meja kerja, dan ada pintu seperti kamar tidur.
Fatan melangkah menuju meja kerja Zara disitu ada dua buah pigora foto Zara dan Mamanya sedang tersenyum senang menatap kamera dan ka'bah menjadi latar belakangnya sungguh manis senyumnya. Dan satu pigora yang menarik perhatiannya, foto putrinya sedang mencium pipi Zara dan Zara tersenyum saat pipinya dicium latar belakang foto itu adalah ruangan yang sekarang ia berada.
Saat asik menatap foto, Fatan tidak menyadari jika Zara sudah selesai dengan sholatnya dan sedang memandangnya.
"Foto itu diambil kemarin lusa saat Abang mengantar Lana kesini" kata Zara mengagetkan Fatan.
"Maaf mengagetkan Abang, abang tidak sholat?" Tanya Zara.
Fatan tidak menjawab membuat Zara menghembuskan nafas jengah dengan sikap Fatan yang tidak mau bicara dengannya kalau tidak penting.
---------
Zara pov
Aku mengikuti langkah Fatan ke luar butikku, sebelumnya aku sudah pesan pada Sachi bahwa aku mungkin tidak kembali, jadi aku suruh dia untuk menutup butiknya.
Aku masuk mobilnya setelah itu dia membawa mobilnya menuju restoran tempatnya membuat janji dengan klien kerjanya.
Aku mengikuti langkah Fatan yang masuk ke restoran mewah.
"Selamat siang" sapa Fatan pada pria tinggi putih tapi masih tinggi Fatan.
"Selamat siang Pak Fatan dan.."
"Dia istri saya" kata Fatan.
"Selamat siang Nyonya Fatan" sapa klien Fatan.
"Assalamualikum, selamat siang Pak" aku menjawab sapaannya.
Aku diam dan memperhatikan setiap apa yang Fatan sampaikan untuk kerja sama proyek yang akan ia tangani di Singapore.
Kulihat Klien Fatan mengangguk mengerti setiap apa yang disampaikan Fatan.
"Anda beruntung Pak memiliki istri yang sangat cantik" kata klien Fatan yang aku tahu namanya Fahri, saat Fatan selesai menyampaikan untuk proyek kerja samanya.
Mendengar itu aku langsung memegang tangan Fatan yang berada di bawah meja.
Ia melihatku sekilas dan melihat pegangan tanganku padanya seperti mengerti dia mengakhiri meetingnya.
"Okey jadi gimana Pak?" Tanya Fatan.
"Okey deal Pak, saya setuju bekerja sama dengan Anda" kata Fahri sesekali melirikku.
Fatan berdiri dan mengulurkan tangannya. Fahri menyambutnya saat ia mengulurkan tangannya padaku.
Aku hanya menangkupkan kedua tanganku di depan dada, bukan aku sombong tidak ingin bersalaman dengannya, tapi aku melihat tatapan anehnya saat memandangku itu membuatku takut.
Ia menarik tangannya kembali.
"Kalau begitu kami pamit dulu, dan maaf tidak jadi makan siang bersama karena anak kami sedang menunggu" kata Fatan.
Fahri mengangguk dan sekali lagi ia menatapku dengan pandangan aneh, itu membuatku menunduk.
Aku mengikuti Fatan saat ia berjalan ke luar Restoran itu.
Aku masuk mobil dan dia menjalankan mobilnya dalam perjalananpun ia diam saja.
Mobil berjalan menuju rumah Mama dan berhenti di depan pintu rumah Mama.
"Assalamualaikum" salamnya.
"Waalaikumussalam" jawab Mama yang sedang main dengan Lana.
"Papa, Mama" teriaknya dan berlari ke arah Papanya, sebelumnya ia mencium tangannya kedua pipinya kening dan bibir Papanya.
"Hoho merindukanku princes" tanya Fatan
Aku tersenyum melihat kebersamaan Papa dan anak itu.
Aku berjalan ke arah Mama dan mencium punggung tangannya.
"Assalamualikum Mama" sapaku.
"Waalaikumussalam Zara" jawab Mama
Aku duduk disebelah Mama.
"Sudah makan siang?" Tanya Mama.
"Belum Ma ini mau makan siang, makanya aku kesini mau jemput Lana" kata Fatan.
"Yaudah Ma aku balik dulu ya" kata Fatan dan beranjak dari duduknya.
Aku mengikutinya setelah berpamitan dengan Mama.
---------
Fatan memberhentikan mobilnya di rumah makan lesehan yang menu makanannya ikan hasil pancingannya sendiri.
"Papa Lana mau mancing" kata Lana pada Fatan.
"Okey sayang sekarang kita turun ya" kata Fatan mengambil Lana dari pangkuanku untuk menggendongnya
"Mama!" Panggil Lana.
"Iya sayang"
"Jalan samping papa!" Pintanya.
Aku tersenyum dan mengangguk.
Fatan mengambil pancing yang ada di dekat kolam ikan.
Dia menyerahkan padaku satu tanpa bicara apapun dari tadi.
Aku memasang umpan pada kailku dan melemparkannya ke kolam.
Lana tertawa saat umpan Fatan dimakan ikan dan pada saat ditarik ikannya lepas.
Memancing adalah suatu kegiatan yang mengajarkan kita arti kesabaran, sabar menunggu umpan kita dimakan ikan.
"Mama, umpannya di bawa lari tu" katanya sedikit cadel.
Aku langsung menarik pancingku sebuah ikan gurami besar berhasil aku tangkap.
"Yeeee Papa kalah " kata Lana membuat Fatan tersenyum melihat anaknya senang.
"Sudah ayo satu saja cukup, nanti sama mencari menu lain" ajak Fatan.
Aku mengangguk dan menggendong Lana masuk kedalam.
Sedangkan Fatan membawa ikan itu ketempat dimana Ikan itu akan dimasak.
"Mau minum apa?" Tanyanya.
"Air putih saja" kataku.
Dia menulis di kertas pesanan kami dan menyerahkan kertas itu pada pelayan.
Kulihat Fatan begitu telaten menghadapi Lana yang kadang banyak bertanya.
Kuukirkan senyum saat Lana memandangku.
Bismillah semoga ini yang terbaik Ya Allah semoga ini jalan yang Engkau berikan padaku suami yang akan menjadi panutanku yang menuntunku kesurgaMu.
Aku menerima dengan ikhlas setatus baru yang sekarang kusandang.
=====💖💝=====
Bersambung
Comments
Post a Comment