SETULUS CINTA ZARA Part 05
Setelah sholat subuh aku segera ke dapur seperti biasa mengerjakan pekerjaan rumah.
Status baru yang kusandang mengharuskanku bertanggung jawab atas rumah besar ini.
Menu sarapan pagi ini aku membuat pancake dan waffle
Aku melihat Fatan turun dengan pakaian tidurnya dengan menggendong Lana.
Saat melihatku ia sempat kaget dan secepatnya ia merubah wajah kagetnya dengan wajah datarnya.
"Assalamualikum Abang." Sapaku saat ia sudah sampai di meja makan.
"Assalamualaikum anak Mama yang cantik" sapaku pada Alana
"Waalaikumussalam" jawab keduanya
Aku mengambil Lana dari gendongan Fatan agar Fatan bisa duduk.
"Hmm Lana suka pancake, tapi Lana pengen waffle" kata Lana.
Aku mengambilkan sepotong pancake dan waffle untuk Fatan dan ku lumuri dengan sirup.
"Lana mau apa?"
"Waffle aja Ma" kata Lana.
Kuambilkan satu waffle untuk Lana.
"Nanti Lana diantar Mama saja ya Pa ke rumah Eyang" kataku pada Lana .
Lana mengangguk.
Fatan menghabiskan sarapannya dengan cepat.
Kemudian ia kembali ke dalam kamar untuk mandi dan bersiap ke kantor.
"Lana habiskan sarapannya dulu, Mama mau nyiapin baju untuk Papa" kataku.
Lana hanya mengangguk, karena mulutnya penuh dengan waffle.
Aku melangkah menuju kamar kulihat Fatan baru ingin melangkah ke lemari untuk mengambil bajunya,
"Abang! biar Zara yang nyiapin, Abang mandi saja" kataku
Tanpa menjawab ia melangkah ke kamar mandi, aku hanya mnghela nafas dengan sikap Fatan yang sangat dingin padaku.
Setelah menyiapkan baju kantor Fatan, aku segera turun, sekarang aku harus memandikan anak ekpresku.
------------
Setelah Lana selesai mandi, kubawa dia turun untuk bertemu dengan Papanya yang akan berangkat kerja.
"Papa!!" panggil Lana dan berlari kepelukan Papanya.
"Papa berangkat kerja dulu ya, jadi anak yang manis nggak boleh nyusahin Mama" kata Fatan membuatku sedikit ada getar halus dihatiku saat ia menyebutku Mama.
"Aku beragkat dulu, nanti makan siang aku jemput untuk makan siang bersama klienku yang dari Singapura", kata Ethan.
Kalimat terpanjang yang baru kudengar dari mulut suamiku yang irit bicara.
"Iya, ayo sayang salim Papa dulu" perintahku.
Lana mencium tangan Papanya.
Kemudian aku meraih tangannya dan mencium punggung tangan suamiku tanpa kecupan kening yang kuharapkan seperti pasangan lainnya.
"Assalamualaikum" salamnya.
"Waalaikumussalam" jawabku.
Setelah Fatan pergi aku segera mengambil tasku dan mengajak Lana pergi.
-------------
Aku sampai di rumah mertuaku keluarga Anggoro.
Setelah menurunkan Lana, aku menggandengnya untuk masuk ke dalam rumah.
Belum sampai aku mengetuk pintu, pintu sudah terbuka.
"E ada Nona kecil" kata Bik Dilla.
"Assalamualikum Bik" salamku.
"Waalaiukumussalam, Non silakan masuk" kata Bik Dilla.
Aku mengangguk dan menggandeng tangan Lana masuk kedalam.
Kulihat Mama sedang duduk di sofa sambil merajut.
"Assalamualaikum Mama!" Salamku dan meraih tangannya untuk kucium.
"Waalaikumussalam, mau ke butik?" Tanya Mama
"Iya Ma, Lana disini sama Eyang apa ikut Mama?" Tanyaku.
"Biar disini Ra," kata Mama.
Aku mengangguk,
"Sayang, Mama mau berangkat ke toko ya, nanti Mama jemput Lana okey"
"Okey Mama" katanya sambil mengangkat kedua jempolnya
"Kalau gitu Ma Zara berangkat dulu" pamitku.
"Hati-hati Ra" kata Mama.
Aku mengangguk,
"Assalamualaikum" salamku
"Waalaikumussalam" jawab Mama.
"Ma!" Panggil Lana saat aku ingin melangkah
"Iya sayang?".
Kujongkokkan tubuhku biar sejajar dengannya.
Dia meraih leherku dan mendekatkan mulutnya ketelingaku yang tertutup hijab.
"Ma, Lana ingin sekolah" bisiknya.
Aku mengerutkan keningku dan menatapnya.
Dia mengangguk penuh harap, aku tersenyum.
"Nanti biar Mama bilang Papa ya" kataku dan diangguki olehnya.
"Kenapa bisik-bisik?" Tanya Mama sambil tersenyum.
"Lana minta sekolah Ma" kataku dan diangguki oleh Lana.
"Lana kan masih tiga tahun sayang" kata Mama.
"Nanti biar Zara tanya Bang Fatan Ma, dan setahu Zara ada kok sekolah untuk anak tiga tahun biasanya cuma diajari cara berhitung atau mewarnai, dan Lana juga bisa bersosialisasi" kataku,
"Bener juga ya, Lana tidak punya teman selama ini selalu bermain dengan Mama saja, ya udah rundingkan dengan suamimu" kata Mama.
Aku mengangguk,
"Ya udah Ma Zara pamit, assalamualikum" salamku dan berlalu pergi.
Author pov.
Fatan menatap laptopnya tapi pikirannya tidak terfokus di laptop yang di hadapannya, pikirannya melayang ke Zara istri yang baru kemarin dinikahinya.
Zara gadis yang baik menjaga auratnya dan selalu sopan dan tidak pernah mengeluarkan suara kerasnya dia lemah lembut, dan cantik.
Fatan Heran kenapa Zara hanya meminta mahar hanya dua juta enam belas ribu, dan seperangkat alat sholat saja.
Tidak seperti dulu Delisa dulu saat ia ingin mengajaknya menikah. Dia minta mahar yang sangat banyak, perhiasan, rumah dan uang.
Zara nama itu yang sekarang memenuhi pikiran Fatan, ia tidak tahu kenapa, tapi perasaannya tetap biasa, ia masih mengharap Delisa kembali padanya.
Sampai suara pintu membuyarkan pikirannya tentang Zara.
Terlihat Dewa membawa beberapa dokumen untuk ditandatanganinya.
Dewa adalah sahabat merangkap asisten, dan seketarisnya.
"Kenapa, bau kemarin menikah sudah ngantor, apa tidak honeymoon?" Tanya Dewa yang heran dengan Fatan.
"Tidak penting begituan" jawab Fatan sambil tangannya bergerak menanda tangani dokumen yang di bawa Dewa.
"Ayo lah bro move on dari wanita itu, dan mulai sekarang stop maen perempuan ada istri loe di rumah" kata Dewa berusaha membuat sahabatnya ini sadar dan dia juga tidak mau sahabat istrinya menderita.
"Tidak tahu la bro" kata Fatan.
"Dia gadis baik bro, gue harap loe jangan sakiti dia" nasehat Dewa.
"Hati wanita itu rapuh meskipun diluar terlihat biasa tapi dalam hatinya sakit bro" kata Dewa.
"Gue tahu la, sudah sana kerjakan pekerjaanmu" perintah Fatan.
Dewa hanya geleng-geleng kepala dan pergi keluar.
Sebenarnya Fatan semenjak ada Lana jarang dia pergi ke luar malam kalau tidak sedang banyak fikiran atau libidonya ingin dipuaskan.
Diliriknya jam tangannya sudah hampir jam makan siang, akhirnya ia membereskan berkas-berkas yang di meja kemudian ia keluar untuk menjemput Zara.
=====🤔🧕=====
Bersambung
Comments
Post a Comment