SETULUS CINTA ZARA Part 04

"Assalamualaikum" salamku padanya..


"Waalaikumussalam" jawabnya kuraih tangannya untuk bersalaman setelah itu dia masuk ke dalam meninggalkanku dengan Lana di depan pintu.


"Assalamualaikum sayang" salamku pada Alana yang diam mematung di depan pintu.


"Waalaikumussalam" jawabnya pelan. 


Kujongkokkan tubuhku biar sejajar dengannya.


"Ada apa kok diam saja?" tanya Zara.


"Mama di sini?" Tanyanya.


Aku mengangguk.


"Mama akan tinggal disini?" tanyanya lagi.


Aku mengangguk lagi. 


"Selamanya?" 


"Insyaallah sayang" jawabku.


"Yeeaaaahhh" teriaknya senang dan berhambur dipelukannku.


"Lana sudah makan?" 


Alana menggeleng.


"Mama tadi sudah masak, mau makan masakan Mama?" Tanyaku.


Alana mengangguk senang.


Aku menggendongnya masuk ke dapur kududukkan dia di kursi sebelum aku memanggil suamiku.


"Lana bentar Mama mau panggil Papa dulu ya" kataku.


Dia mengangguk.


Kulangkahkan kakiku ke ruang kerjanya yang berada di dekat ruang keluarga.


Tok...tok...tok..


Ku ketuk pintunya kubuka sedikit kulihat dia sedang serius dengan kerjanya.


"Maaf Abang, makan dulu Lana sudah menunggu di meja makan" kataku. 


Dia melihatku sebentar kemudian kembali fokus pada lembar kerjanya.


Tak lama dia menutup lembar kerjanya dan beranjak ke luar, aku mengikutinya di belakang.


Aku duduk di samping Lana sedangkan Fatan duduk di kepala meja.


"Mama, Lana minta bulet-bulet itu" 


"Tahu sayang?" Tanyaku.


"Lana tidak tahu namanya Mama tapi yang bulet-bulet seperti bola pingpong itu lo Ma" kata Lana. 


Aku mengangguk dan mengambilkan bola-bola tahunya.


 "Bang mau yang mana?" Tanyaku pada Fatan.


Dia tidak menjawab, Ya Allah suamiku ini bisu apa ya, astagfirullah apa yang kamu ucapkan Zara dosa ngomongin suami sendiri.


"Papa suka semua Mama ambil semuanya saja untuk Papa" kata Lana.


Aku mengangguk, dan benar suamiku sangat lahap makannya.


Selesai makan, Fatan kembali lagi ke ruang kerjanya.


"Mama temani Lana bobok ya!" Kata Lana.


Aku mengangguk dan menggendong Lana ke kamarnya.


---------


Aku membacakan dongeng pengantar tidur untuk Lana.

Kulihat dia sudah tertidur, kucium keningnya setelah itu aku mematikan lampu kamar dan beranjak keluar.


 Aku masuk kamar dan kulihat Fatan sudah bersandar di ranjang dengan tangan memegang tabletnya.


aku mengganti pakaianku dengan piyama panjang.

Aku tahu ini adalah malam pertamaku, apa dia mau menyentuhku? biarkan waktu yang menjawab itu semua karena dari tadi dia seperti menghindariku.


Aku merangkak naik keranjang sebelah suamiku, kulirik dia masih sibuk dengan tabletnya.


"Bang!" Panggilku


Dia menoleh padaku 


Aku mengulurkan tanganku, dia mengerutkan kening tapi dia menyambut uluran tanganku 


"Zara tidur dulu Bang, maaf jika Zara membuat salah, assalamualikilum" salamku 


Sudah menjadi kewajibanku saat ingin tidur selalu meminta maaf pada Mama, siapa tahu dalam tidur malaikat pencabut nyawa datang kematian adalah rahasia ilahi.


 "Waalikumussalam" jawabnya.


----------


Fatan pov


Aku melihat Zara yang sudah tidur terlentang, kupandang tubuh kecil itu sejujurnya dia gadis yang cantik, tapi aku masih belum percaya dengan wanita, karena seorang wanita masa depanku nyaris hancur, hanya karena wanita yang dulu sangat aku cintai bahkan mungkin sampai saat ini masih kucintai, dia yang memberiku seorang putri cantik, tapi sayang wanita yang kucintai malah memilih pria lain yang lebih dariku dan meninggalkan putri kecil bersamaku.


Flasback.


Kejadian tiga tahun lalu saat aku baru datang dari Belanda menyelesaikan tour bisnisku, dia membawa bayi kecil dan menyerahkan padaku. 


Dia bilang bayi kecil itu anakku, anak hasil benihku yang kutanam sebelum aku berangkat tour bisnisku.


 Sebulan kepergianku dia mengabariku bahwa dia hamil, dan aku sangat senang kusuruh dia merawat bayi yang dikandungnya dan berjanji sepulang dari tour aku akan menikahinya.


Tapi saat aku pulang pertama kali dari Belanda kenyataan yang sangat mengejutkanku dia datang ke kantorku dengan bayi kecil digendongannya


"Fatan!" Panggil seseorang membuat ku menoleh pada seorang yang memanggil.


"Hey Delisa" sapaku dan mencium keningnya.


Delisa dia wanitaku yang mau mengandung anakku.


"Apa dia anakku?" Tanyaku. Sambil memandang bayi perempuan.


Dia mengangguk 


"Iya dia anakmu" kata Delisa.


"Katanya masih seminggu lagi makanya aku percepat kepulanganku" kataku.


Dia menyerahkan bayi itu kepadaku.


"Aku sudah mengandung sembilan bulan untukmu, dan melahirkan anak ini untukmu juga" kata Delisa.


"Aku tidak mau menikah denganmu dan aku juga tidak mau merawat anak ini, aku serahkan semua padamu, aku sudah memiliki pria yang lebih baik darimu yang lebih kaya darimu" sambungnya.


Kenyataan itu yang membuatku hancur. Dia wanita yang kucintai tega bicara begitu padaku.


"Maksudmu apa Delisa?"


"Selama ini aku sudah menahannya Fatan, aku sudah tidak mencintaimu" kata Delisa dan pergi meninggalkanku dengan bayi kecil ini, dia putriku putri kecilku.


Aku segera pergi ke rumah Mama memberitahu pada Mama apa yang terjadi.


Beruntung aku memiliki keluarga yang sangat mengerti aku, mereka menerima anakku dan merawatnya selama aku bekerja dan saat putriku berumur dua tahun, aku memutuskan untuk menempati rumah yang kubeli satu tahun lalu. Setelah itu aku merawat putriku sendiri di rumahku dan setiap pagi aku mengantarkan putriku ke rumah Mama dan aku bekerja dan sorenya aku bawa pulang.


 Aku melihat tubuh kecil itu menggeliat, aku segera membaringkan tubuhku pura-pura tidur.


Aku merasakan tempat sebelah bergoyang dan kubuka mataku sedikit aku melihat dia ke kamar mandi tidak lama dia kembali menuju meja di mana ada sajadah dan mukenanya.


Aku melihat jam sekarang sudah jam setengah dua pagi dia mau sholat, sholat apa di jam setengah dua pagi seperti ini. 


Sebenarnya aku masih belum siap untuk menikah, aku masih belum siap untuk membuka hatiku untuk wanita lain, tapi Lana selalu menanyakan dimana Mamanya dan selalu menangis ingin mempunyai Mama, aku tidak tega melihatnya, akhirnya aku menerima saran Mama untuk menikah dengan anak sahabatnya. 


Tak ingin memikirkannya aku mulai memejamkan mataku.


=====🤔🙇‍♂️=====




Bersambung

Comments