SETULUS CINTA ZARA Part 03



"Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku" (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)


----------


Aku duduk di kamar ditemani Helen dan Kakak tiriku.


"Jangan gugup, tanganmu sangat dingin" kata Helen.


"Iya dek tanganmu dingin banget" kata Kak Sandra.


Aku hanya tersenyum, 


"Ya Allah semoga ini menjadi pertama dan terakhir untukku" doa ku dalam hati.


"Ayo sudah selesai" kata Bunda istri muda Papa.


Aku dituntun Helen dan Kak Sandra.

Menuju lantai bawah dimana akad nikah dilaksanakan.


"Saya terima nikahnya Fatimah Azzara binti Darman Prayoko dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang dua juta enam belas ribu rupiah dibayar tunai" lafadnya dengan sekali nafas.


Sah?


Sah.


Hatiku semakin deg-degan karena aku sudah resmi menjadi seorang istri pengusaha muda Fatan Dwija Anggoro,


Doa dipanjatkan, kutundukkan kepalaku ikut mengaminkan setiap doa yang dibacakan.


Aku menunduk saat ia melangkah ke arahku.

Dia berjongkok didepanku meraih tanganku dan disematkan cincin emas bermata berlian.


Kucium tangannya seraya mengucapkan salamku


"Assalamualikum" salamku.


"Waalaikumussalam" jawabnya dan mengecup puncak kepalaku.


Sesi foto keluarga dan foto.


Saat foto berdua baru aku menyadari bahwa suamiku orang yang pernah aku temui dulu lelaki pertama yang menyentuh hatiku tiga tahun lalu. Lelaki berambut berantakan keluar dari supermarket dengan membawa beberapa pampers.

Dengan wajah kesalnya.


 "Jangan terus memandangiku, semua orang pada ngelihat kita" katanya itu membuatku menunduk malu.


YaAllah apa ini takdirmu, apa ini jodoh yang kau kirimkan untukku, 


--------


Acara sudah selesai aku sudah berada di kamar untuk menghapus riasanku dan mengganti bajuku.


Aku teringat ketika aku pertama kali bertemu dengannya.


Aku yang baru ingin masuk supermarket ditabrak dengan seorang pria membawa banyak tas plastik berisi pampers yang jatuh berhamburan ke tanah. 


"Sial, jalan tidak lihat-lihat" umpatnya


"Assalamualaikum, maaf Tuan saya tidak sengaja" kataku meminta maaf bukannya memaafkan ia malah menatapku dan menegurku.


 "He Mbak lain kali jalan itu lihat ke depan" katanya. 


Aku mengangguk 


"Maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja" kataku.


Saat pandanganku ke arahnya.


"Subhanallah, pria ini" kataku dalam hati.


"Ini Tuan maafkan saya" kataku sekali lagi.


Sepeninggal dia aku memegangi dadaku terasa dag dig dug.


"Ya Allah kenapa dengan aku?".


"Kenapa kamu diam saja cepat ganti bajumu, dan bersiap." Katanya membuyarkan lamunanku


"Emangnya mau kemana?" Tanyaku.


"Pergi ke rumahku cepat" katanya dan berlalu pergi.


Aku cepat ganti baju dan menyusulnya ke depan.


"Mama!" Panggilku saat melihat Mama.


"Cepat siap-siap" katanya.


"Emang mau kemana Mama?"


 "Pulang ke rumah suamimu, anakmu sendirian di rumah" kata Mama.


Anak? Ya aku punya anak expres tanpa aku mengandung dulu.


"Zara pamit Mama" pamitku.


"Hati-hati sayang" kata Mama aku masuk ke dalam mobilnya.


Sekarang giliran dia berpamitan pada Mama.


"Ma Fatan pamit, kami akan sering-sering kemari"


Kulihat Mama mengangguk.


"Jaga anak Mama, dia harta Mama satu-satunya" pesan Mama.


"Ingatkan dia bila salah ya"


Fatan memgangguk.


"Insyaallah Ma, kami pergi dulu" pamitnya dan masuk ke dalam mobil.


"Assalamualaikum Mama" salamku sebelum mobil perlahan berjalan meninggalkan pekarangan rumah milik Mama menjadi saksi bisu aku bertumbuh dewasa.


 Rumah besar yang di depanku akan menjadi tempat tinggalku sekarang.


"Sampai kapan kamu diam disitu" tanyanya yang sudah berada di depan pintu.


Tersadar aku segera mengikuti langkahnya.


Aku melihat sekeliling rumah tampak begitu mewah.


"Ini kamar kita, disebelah kamar Lana" kata Fatan. 


Aku mengangguk. 


"Istirahatlah, aku mau nyelesaiin tugas kantor" katanya. 


Aku mengangguk.


Setelah dia ke luar, aku menata bajuku ke dalam lemari yang ada di sudut kamar yang menyatu dengan dinding.


"Besar banget rumahnya hanya tinggal berdua" gumamku mengingat rumah besar ini hanya ditempatinya dengan Lana saja bahkan pembantu rumah tangga tidak ada.


 Aku ke luar kamar menuju dapur melihat isi kulkas yang penuh dengan ice cream coklat, buah, sayuran.


Aku mengeluarkan beberapa bahan untuk membuat makan malam karena tadi tidak sempat makan keburu Fatan mengajaknya pergi.


"Aku menjemput Lana dulu"


"Astagfirullahaladzim" suara barito Fatan sungguh mengagetkanku.


"Apa Zara perlu ikut?" Tanyaku.


"Tidak perlu" jawabnya. 


Aku menganguk dan berjalan ke arahnya kuulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya, dia mengerutkan kening.


"Salim" kataku.


Dia mengangkat tangannya dan mengulurkan tangannya dan aku segera menyambutnya.


"Hati-hati Bang" pesanku. 


Dia hanya mengangguk.


Aku mengantar Fatan sampai depan pintu saja, setelah mobilnya hilang aku kembali ke dapur.


Aku selesai memasak dan kulihat jam di dinding sudah masuk waktu sholat isya'. Jadi setelah menata semua di meja, aku segera masuk ke kamar Fatan untuk melakukan sholat isya'.


Setelah sholat isya' aku segera turun karena mendengar deru mobil Fatan yang memasuki garasi.

Kubuka pintu rumah menyambut anak dan suamiku.


=====💞🌹💕=====




Bersambung

Comments