SETULUS CINTA ZARA Part 02
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu mengganggu konsentrasiku, aku berdiri dari kursiku berjalan untuk membuka pintu.
Kulihat anak kecil berusia tiga tahunan berdiri di depan pintu dengan rambut yang dikepang dua, ini dia calon anakku.
“Mama!” panggilnya.
Kujongkokkan tubuhku biar bisa sejajar dengannya.
“Assalamu’alaikum, sayang” salamku.
“Wa’alaikumussalam Mama” jawabnya.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling mencari sosok yang akan menjadi calon imamku.
“Lana, sama siapa sayang?”, tanyaku karena tidak menemukan siapapun yang bersama anak ini.
“Tadi sama Papa, tapi Papa ada meeting jadi Lana ditinggal disini” katanya, aku menggiringnya masuk ke dalam ruanganku.
Alana Queta Anggara itu nama gadis kecil yang sangat cantik ini.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, nama Fatan terpampang di layar ponselku, kuusap layarnya.
“Hallo, sorry aku tinggal Lana, dia dari tadi nangis, minta diantar ke tokomu” katanya panjang lebar tanpa mengucap salam terlebih dahulu.
“Assalamu’alaikum, iya saya akan menjaga Lana sampai kamu menjemputnya” kataku.
“Terima kasih” katanya dan menutup teleponnya tanpa menjawab salamku.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.
--------
Aku duduk mengamati Alana yang sedang memakan cake coklat kesukaannya.
Aku mengingat pertama kali keluarga Fatan datang ke rumahku, melamarku setelah sehari diberitahu Papa bahwa aku dijodohkan dengan anak dari rekan bisnisnya, awalnya Mama tidak setuju tapi setelah tahu dari keluarga baik-baik, akhirnya Mama setuju. Tapi yang membuat Mama bimbang adalah kelakuan Fatan dulu.
“Jangan gila mas, biarkan Zara yang memilih calon suaminya sendiri” marah Mama saat Papa datang ke rumah.
“Aminah, mereka dari keluarga baik-baik, dan kamu kenal orangnya, dia Anggara dan Maryam” katanya.
“Anak Anggara dan Maryam?” Aminah memastikan.
“Iya” jawabnya, Aminah akhirnya mengangguk.
“Baiklah, mereka dari keluarga baik-baik” kata Aminah menyetujui, tapi seketika Aminah menggeleng,
“Tidak mas, Anggara hanya memiliki satu anak dan anak itu yang ada skandal tiga tahun lalu” katanya.
“Dia sudah berubah Aminah”
“Tapi mas, tidak, Ami tidak setuju”, katanya.
“Mama jangan menghakimi orang karena masa lalunya” kata Zara lembut.
“Jika memang Zara berjodoh dengannya, perjodohan ini akan berlanjut Mama, percaya jika Allah sudah menentukan jodoh Zara” kataku.
“Tapi sayang .....”.
Zara menggeleng mencoba membuat Mamanya mengerti.
“Baiklah, aku setuju” kata Aminah.
Sehari kemudian keluarga Anggara datang ke rumah berniat langsung menentukan tanggal pernikahan.
“Yang Uti, apa itu Mama Lana?” tanya gadis berumur tiga tahunan.
“Dia akan menjadi Mamamu sayang” kata Maryam.
Anak kecil itu berjalan mendekati Zara.
“Aunty, mau jadi Mama Lana ya?”, tanyanya polos.
Zara mengangguk setelah melihat Mamanya.
“Iya sayang, Lana sayang tidak sama Aunty?” tanya Zara.
“Aku sayang Aunty, boleh Lana panggil Mama?” Zara mengangguk lagi.
“Yeah, Yang Uti, Lana punya Mama baru” katanya girang.
“Gimana Ami kamu setuju?” tanya Anggara.
“Iya, saya setuju mas karena Zara sudah setuju” kata Aminah.
“Terima kasih Ami” kata Maryam.
“Sama-sama Mbak”
“Jadi lusa aku mau pernikahannya” kata Anggara.
“Secepat itu mas?” tanya Aminah.
“Iya lebih cepat lebih baik. Aku takut Zara berubah pikiran”.
“Anakku tidak seperti itu mas” tegur Aminah.
“He ... he ... he ..., iya saya tahu bagaimana Zara, makanya saya ingin menikahkan anak saya dengan Zara” kata Anggara.
“Biar Zara yang menentukan hari pernikahannya” kata Aminah.
Zara mendekat dengan menggendong anak kecil itu.
“Zara setuju, asal Mama setuju” putus Zara setelah mendengar rundingan Mamanya tadi.
Lamunanku buyar karena tanganku ada yang menarik.
“Mama, Lana sudah selesai” kata Lana sambil menyodorkan piring bekas cake coklatnya.
“Anak pintar”, pujiku, aku meletakkan piring kotor ke meja.
Jujur aku belum bertemu dengan Papanya Lana, hanya sekedar tahu nomor teleponnya saja, itupun dari calon mertuaku, dan aku juga berniat bertemu saat acara akad nikahku besok saja.
“Mbak Zara!” panggil Inun
“Ya Inun?”
“Ada yang mencari Mbak, namanya Bu Maryam” kata Inun.
“Suruh langsung kesini saja Inun”.
Inun mengangguk.
Tak lama sosok wanita paruh baya datang.
“Assalamu’alaikum” salamnya.
“Wa’alaikumussalam, Mama” jawabku,
Ya aku memanggilnya Mama atas permintaannya.
“Lana tidur?” tanyanya melihat Lana terbaring di pangkuanku.
“Sepertinya Ma, baru makan cake coklat tadi” kataku.
“Mau ngajak pulang, Fatan tidak bisa jemput” kata Mama Maryam.
“Biar Zara gendong Ma”, tawarku,
Mama mengangguk.
Aku menggendong Lana yang sedang tidur ke dalam mobil.
“Mama pulang dulu ya, jangan lupa besok” kata Mama mengingatkan.
Aku mengangguk.
Besok adalah hari terpenting di hidupku, dimana dua hati akan dipersatukan dalam ikatan suci dan sakral.
=====💕💞=====
Bersambung
Comments
Post a Comment